clock menu more-arrow no yes mobile

Bagaimana kearifan, alam, dan teknologi membuat peternakan susu Belanda unik

Mengapa sapi NOVAS Signature Milk menghasilkan susu bubuk berkualitas

This advertising content was produced in collaboration between Vox Creative and our sponsor, without involvement from Vox Media editorial staff.

Bagaimanakah para orang tua mengetahui perbedaan utama di antara berbagai merek susu bubuk? Dan mengapa perbedaan tersebut dipengaruhi oleh perjalanan susu bubuk dari rumput di padang sampai pengiriman ke rak toko? Nah, saat ini semakin penting sekaligus menantang bagi kita untuk mendapat kejelasan tentang rantai pasok global untuk produk apa pun. Untungnya, bagi konsumen susu bubuk Friso Gold, Friso sangat peduli terhadap transparansi dari rantai pasoknya; Friso benar-benar berinvestasi di dalam mutu produk susu serta kesejahteraan para peternak dan sapi perahnya. Etos ini menjadi inti dari NOVAS Signature Milk yang istimewa. Bukan rahasia lagi bahwa sapi terbaik menghasilkan susu terbaik. Jadi, apakah yang membuat sapi NOVAS Signature Milk menghasilkan produk susu terbaik?

Landasan Pengendalian Mutu Friso

Landasan pengendalian mutu Friso menjangkau jauh sampai ke padang rumput hijau Belanda, yang telah menjadi pusat produksi susu perah sejak abad ke-16, jauh sebelum konsep mutakhir tentang “ciptakan produk berkulitas” lahir.

Paul Schouten adalah peternak susu generasi ketiga yang memelihara 250 ekor sapi Holstein Friesian di peternakan sapi keluarganya di provinsi Gelderland, Belanda. Yang lebih istimewa, sapi-sapi itu dipilih secara khusus untuk memproduksi NOVAS Signature Milk, bahan baku susu bubuk Friso Gold.

Seperti dikatakan Schouten, “Kakek saya mengawalinya di sini pada tahun 1930. Jadi, kami telah berada di sini selama lebih dari 80 tahun. Saya generasi ketiga, dan mungkin kami akan memiliki generasi keempat. Putra bungsu saya sudah berumur 14 tahun - barangkali dia mau mengambil alih.”

Legasi Peternakan Keluarga

Legasi peternakan keluarga bukan hanya lahan fisiknya; legasi itu juga diukur dari pengetahuan yang diwariskan. Selama bertahun-tahun, kakek Schouten memelihara 25 sapi bersama tim beranggota empat orang. Sekarang, Schouten dengan bantuan proses otomatis, mengurus peternakan yang berisi 250 sapi bersama saudara laki-lakinya dan seorang karyawan. Tetapi, ia juga percaya bahwa kemampuan teknologi ada batasnya, dan di situlah ilmu yang diwariskan turun-temurun menjadi sangat bernilai. Contohnya, ketika menyangkut kesehatan dan kesejahteraan sapi, Schouten menggunakan komputer untuk mencatat dan mengukur asupan pakan – namun, itu saja tidak cukup.

“Ketika Anda mengubah jenis pakan sapi, Anda harus memperhatikan kulitnya. Anda harus melihat [tampilan] kotorannya. Ada ungkapan, ‘Engkau harus merasakannya dengan jemarimu,’” jelas Schouten. Dengan kata lain, peternak harus memiliki naluri, intuisi, dan pengalaman, di samping teknologi terkini. “Apabila Anda berpikir bahwa itu bisa dikerjakan oleh mesin dan Anda cukup melihatnya di layar komputer, mustahil Anda berhasil. Benar, mungkin berhasil untuk 70 persen sapi Anda, namun mustahil 100 persen.”

Yang mutlak benar bagi 100 persen ternak Schouten adalah rutinitas. Schouten mengawali hari pada pukul enam pagi dengan memeriksa mesin perah dan memberi makan anak sapi, yang dilanjutkan memberi makan sapi. Dalam rentang waktu itu (dan sepanjang hari), ia juga memeriksa satu per satu sapi guna mengamati kesehatan dan kesejahteraannya.

“Itu sama dengan perlakuan pada manusia. Ketika Anda memeriksa sesuatu, atau seseorang, dan Anda melihat matanya tidak tidak bagus atau rambutnya tidak sehat atau orang itu tidak bahagia, sapi juga begitu. Anda harus mempelajarinya. Saya mempelajarinya dari ayah saya,” kata Schouten.

Setelah tiga jam memberi makan dan memeriksa kondisi sapinya, sapi dibawa keluar untuk merumput di udara segar selama enam jam. “Hal terpenting adalah cuaca di Belanda,” kata Schouten. “Iklimnya sangat baik. Udara tidak terlalu panas. Terkadang udara sedikit lembab, namun kalau terlalu lembab, Anda bisa mengurung sapi di kandang. Tapi, hal itu bukan masalah bagi kami. Setiap hari sapi bisa keluar untuk merumput.

Keahlian Peternakan Belanda

Bagi pengamat luar, mungkin terkesan kurang tepat untuk membayangkan ternak merumput, yang membutuhkan ruang terbuka, dan Belanda, negara yang relatif kecil dengan penduduk yang padat. Faktanya, Belanda memiliki tingkat kepadatan penduduk 508 orang per kilometer persegi. (Sebagai pembanding, kepadatan penduduk rata-rata dunia hanya 25 orang per kilometer persegi.) Namun sekali lagi: pengalaman, lingkungan hidup, serta keahlian pengairan Belanda di musim kering, semuanya berpadu untuk membuat lahan yang secara historis subur, sama seperti di masa lalu, bagi pertumbuhan sapi perah.

Ketika Anda memadukan pakan yang terbaik, teknologi pertanian yang maju, dan keahlian peternakan Belanda yang telah dipraktikkan berabad-abad, hasilnya adalah susu berkulitas tinggi. Ada dasar ilmiah untuk itu: kasein adalah protein utama dalam susu sapi. Sapi-sapi Friso menghasilkan susu dengan kadar mineralisasi kasein yang lebih rendah daripada rata-rata dibandingkan dengan sapi Jersey – yang berarti bahwa susu Friso memiliki molekul kecil berstruktur lunak yang lebih mudah dicerna anak-anak.

Schouten hanyalah satu dari sekian banyak peternak dalam rantai produksi susu bubuk Friso Gold. Meskipun cara mereka beroperasi berbeda-beda, mereka semua mematuhi standar ketat Duurzame Zuivelketen (Rantai Produksi Susu Lestari), yang berfokus pada pembangunan yang netral terhadap iklim, perlindungan keragaman hayati lokal, pelestarian praktik penggembalaan terbuka terbaik, dan pembuatan produk susu berkulitas. Seperti dinyatakan oleh Duurzame Zuivelketen, “Dalam rantai produk susu, kami ingin hasil kerja kami aman dan memuaskan; kami ingin memperoleh pendapatan yang baik, memproduksi makanan berkulitas tinggi, menghormati hewan dan lingkungan, serta dihargai oleh masyarakat Belanda.”

Dokumen yang terpisah dari namun selaras dengan tujuan Rantai Produk Susu Lestari adalah pedoman Foqus Planet yang disusun oleh FrieslandCampina, produsen NOVAS Signature Milk. Panduan Foqus Planet mensyaratkan bahwa sapi harus digembalakan di lahan terbuka namun tetap ramah keragaman hayati; memberi asupan pakan berkulitas tinggi; dipelihara di peternakan yang bersih. Ini bukan retorika belaka – petugas memeriksa secara berkala praktik operasi seperti peternakan Schouten untuk memastikan pengendalian mutu peternakan, penggembalaan yang ramah keragaman hayati, dan pakan ternak. “Kerap kali, petugas datang sekali setahun atau sekali per dua tahun,” ucap Schouten. “Namun, saya tegaskan, kalau mereka ingin datang setiap bulan, silakan. Tidak masalah.”

Konsumen sendiri bisa sedikit ikut mengawasi prosesnya melalui QR Code TrackEasy yang ada di bawah setiap kaleng Friso Gold. Ketika memindai QR Code itu, konsumen bisa mengetahui asal peternakan penghasil susu bubuk tersebut dan tanggal persis pemerahan susu, yang memberi bukti nyata kepada istilah “dari rumput sampai gelas.”

Schouten mengatakan bahwa terlepas dari tingkat pengawasan, ia puas dengan mutu produknya. Bahkan pekemah boleh menginap di peternakan, sebagai bagian dari liburan. “Setiap hari, ada orang-orang di sekitar kami, melihat kerja kami. Dan itulah yang terpenting. Kerjakan setiap hari, dengan cara yang benar.”

Advertiser Content From Friesland Novas logo